Perjalanan panjang sejarah pergerakan pribumi Indonesia telah bermuara pada hari Sumpah Pemuda sebagai simbol kebangkitan pemuda Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 82 tahun yang lalu tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda dari seluruh nusantara diantaranya Jong Sumatranen Bond, Jong Java, Jong Celebes, Jong Borneo, Jong Ambon (dari pemuda pribumi) dan Jong Islamieten Bond (dari pemuda keagamaan) berkumpul di Kramat Raya, Jakarta untuk mengikuti kongres pemuda.
Ikrar Sumpah pemuda yang menyatakan satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia adalah sesuatu yang sakral bagi terwujudnya persatuan menjadi satu bangsa Indonesia. Ego kedaerahan yang rela ditanggalkan oleh para pemuda nusantara demi melepaskan belenggu penjajahan dan terangkatnya harkat dan martabat hidup pribumi, seyogyanya menyadarkan anak bangsa untuk tetap bersatu dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Nasib pribumi pasca Kultur Stelsel yang berada dalam kondisi termiskinkan dan terbodohkan, karena lahan-lahan pertanian mereka dikuasai Belanda sedangkan rakyat pribumi tidak memiliki keahlian mengelola tanaman keras saat itu. Politik Etis (balas budi) Belanda yang diterapkan semakin membodohi rakyat, karena tidak semua pribumi dapat mengenyam pendidikan dan hanya golongan tertentu yang dapat memperolehnya.
Boedi Oetomo, organisasi pertama yang dibangun oleh dr. Soetomo pada 20 Mei 1908 di Surabaya, berusaha melepaskan kaum pribumi dari kebodohan dan ketertindasan melalui pendidikan. Kemudian, usaha itu dilanjutkan Ki Hadjar Dewantoro melalui Taman Siswo pada 2 Mei 1920 di Yogyakarta. Pendidikan kaum pribumi ini telah membangkitkan rasa kebangsaan yang kuat pada kaum pribumi di seantero negeri. Kehendak untuk bersatu pun mulai tumbuh untuk melawan ketertindasan dan keterjajahannya akibat kebijakan yang diterapkan.
Dasar Kepribumian dan Dasar Keagamaan telah menjadi dasar dilahirkannya Bangsa Indonesia untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dasar Kepribumian telah menjadikan Bangsa Indonesia untuk bersikap berpihak kepada manusia yang adil dan beradab. Sikap keberpihakan inilah yang akan menjamin terjaganya keutuhan Indonesia didalam persatuan Indonesia yang tidak akan keluar dari koridor cita-cita Sumpah pemuda. Agar kehendak untuk mengangkat harkat dan martabat hidup "kaum pribumi" itu terjaga selama-lamanya, maka, di dalam kehidupannya, Bangsa Indonesia harus bersikap berpihak kepada "rakyat" bukan kepada "elit." Oleh karena itu, seluruh usaha dan upaya untuk mencapai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus disandarkan kepada suatu sikap keberpihakan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 oktober sebagai HARI LAHIRNYA BANGSA INDONESIA. Kehendak untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Hidup Orang Indonesia Asli, menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945 melalui Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia (PKBI).
Sumpah Pemuda :
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar