Senin, 30 Juli 2012

Refleksi Kebangkitan Pribumi

Dinamika budaya, hukum, so­­­­­sial, politik, ekonomi hingga isu-isu lingkungan yang dewasa ini diperbincangkan menjadi hal yang menarik untuk kita amati. Mulai dari pengamat, pa­kar, hingga praktisi mencoba mengamati dan mengkritisi kon­­disi bangsa Indonesia saat ini, tidak sedikit yang mencoba memberikan terobosan-te­ro­bosan baru sebagai solusi agar Indonesia dapat terlepas dari krisis multidimensi yang me­lan­da saat ini.

Banyak orang yang me­ngu­raikan tentang per­masalahan-per­masalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini. Ter­masuk dalam seminar na­sional yang diselenggarakan oleh UPT Humas Untirta be­ker­­­­­jasama dengan Radar Banten yang membahas tentang “Na­sionalisme Yang Tercabik”, Senin (21/5) lalu. Narasumber yang ber­lainan latar belakang, me­nguraikan nasionalisme dalam sudut pandang mereka. Ada yang mengurai dari sudut pan­dang agama oleh Zainal Abidin Syu­jai (MUI Banten), sejarah peradaban dunia oleh M. Safari (ICMI) dan titik nadir na­sio­na­lisme di Indonesia oleh Dedi S. Gumelar/Miing (anggota DPR-RI).

Pendidikan Buruh

Perburuhan dan pendidikan di Indonesia secara historis memiliki keterkaitan erat. Karena berdasarkan sejarah, banyaknya perburuhan di Indonesia merupakan kondisi yang menggambarkan pribumi hidup dalam keterpurukan, dimana faktor – faktor produksi pribumi dikuasai oleh kaum – kaum penjajah. Sehingga pada akhirnya pendidikan memiliki peran yang signifikan dalam membebaskan pribumi dari penindasan.

Memasuki awal bulan Mei di Indonesia terdapat dua hari besar yang selalu diperingati oleh sebagian rakyat Indonesia. Pertama, Peringatan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional, yang biasa tiap – tiap tahun diperingati oleh kaum – kaum buruh di Indonesia. Kedua, peringatan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, yang merupakan tonggak bagi terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa menuju Indonesia merdeka.

Sabtu, 28 Juli 2012

Hati-hati Menyebut "AAMIIN"!


Kesalahan penulisan Aamiin yang sering Terjadi 


Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :


1. ”AMIN” (alif dan mim sama-samapendek), artinya AMAN, TENTRAM


2. “AAMIN” (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN


3.”AMIIN” (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA


4.“AAMIIN” (alif & mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAN DOA KAMI.


Wallahu'alam bis shawab..

Membangun Kembali Gotong Royong

Gotong Royong, sebuah istilah yang sangat akrab ditelinga rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Berbagai macam suku, budaya, dan bahasa mengenal dan mengerti arti dari kata yang menjadi jatidiri bangsa Indonesia dari ribuan tahun yang silam hingga saat ini. Persamaan arti dan makna kata yang menjadi ruh semangat juang rakyat Indonesia, kini hanya sebuah ungkapan jargon kosong yang sering didengungkan tapi perlahan hilang, bersamaan derasnya pengaruh modernisme yang melanda bangsa kita saat ini.

Banyak faktor yang menjadi penyebab hilangnya budaya gotong royong sebagai identitas dan sikap bangsa Indonesia. Pola pikir agamis yang menjadi ciri bangsa  berketuhanan, semakin tergeser oleh pola pikir materialis yang mengukur dan menilai sesuatu berdasarkan nilai material (kebendaan), yang tanpa disadari mengarahkan kepada pola pikir mistik yang kini marak terjadi. Manusia yang adil dan beradab berevolusi menjadi manusia-manusia yang tidak adil dan biadab terhadap bangsanya sendiri. Disintegrasi bangsa dan sentimen kedaerahan (egosentrisme) semakin memecah belah bangsa yang menjunjung persatuan dan kesatuan. Rakyat yang mengenal musyawarah-mufakat sebagai metode mengambil keputusan oleh pemimpin-pemimpin rakyat (hikmat) yang diberi amanat di dalam permusyawaratan/perwakilan, kini hanya mementingkan golongan sebagai pimpinan partai dan konstituen dimana dia berasal. Sehingga keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai cita-cita dan tujuan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak dapat tegak hingga saat ini.

Mari Mengajar ala Forkoma


Lebak - Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa dan Alumni (Forkoma Banten) mengadakan program Mari Mengajar di SDN Hariang II, Desa Hariang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Kegiatan ini dilaksanakan mulai tanggal 14-18 Juli 2012.
Mahasiswa tersebut berasal dari beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Institut Pertanian Bogor, UIN Syarif Hidatullah, UPI Bandung, Universitas Negeri Jakarta, dan Untirta. Tujuan diadakannya kegiatan ini merupakan bentuk penjalanan Tridharma Perguruan Tinggi yakni, Pengabdian pada Masyarakat.

Si Bungsu yang Belajar Mandiri


Nama lengkapku Faisal Tomi Saputra. Orang-orang biasa memanggilku Tomi. Meskipun teman-teman di sekolah menengahku lebih mengenal dengan panggilan Faisal, diambil dari nama depanku. Aku lahir di Serang pada hari kamis tanggal 16 Maret 1989. Aku anak ketiga atau anak bungsu dari tiga bersaudara yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Sebenarnya ayah dan ibuku pernah memiliki anak perempuan, tetapi ia meninggal sebelum aku lahir. Sehingga aku tidak tahu seperti apa kakak perempuan pertamaku itu.
Orang bilang anak bungsu itu cenderung manja, entah apa alasan mereka mengatakan hal itu. Stigma itulah yang akhirnya melekat kepadaku hingga saat ini. Terkadang sebutan itu membuatku merasa tidak nyaman, karena penilaian seseorang terhadapku langsung berubah ketika mereka mengetahui bahwa aku adalah anak bungsu. Manja, banyak maunya sampai harus dituruti semua keinginannya, itulah yang mereka pikirkan.