Sabtu, 28 Juli 2012

Si Bungsu yang Belajar Mandiri


Nama lengkapku Faisal Tomi Saputra. Orang-orang biasa memanggilku Tomi. Meskipun teman-teman di sekolah menengahku lebih mengenal dengan panggilan Faisal, diambil dari nama depanku. Aku lahir di Serang pada hari kamis tanggal 16 Maret 1989. Aku anak ketiga atau anak bungsu dari tiga bersaudara yang semuanya berjenis kelamin laki-laki. Sebenarnya ayah dan ibuku pernah memiliki anak perempuan, tetapi ia meninggal sebelum aku lahir. Sehingga aku tidak tahu seperti apa kakak perempuan pertamaku itu.
Orang bilang anak bungsu itu cenderung manja, entah apa alasan mereka mengatakan hal itu. Stigma itulah yang akhirnya melekat kepadaku hingga saat ini. Terkadang sebutan itu membuatku merasa tidak nyaman, karena penilaian seseorang terhadapku langsung berubah ketika mereka mengetahui bahwa aku adalah anak bungsu. Manja, banyak maunya sampai harus dituruti semua keinginannya, itulah yang mereka pikirkan.
Mungkin pandangan itu berdasarkan jalan hidup yang aku jalani. Dua tahun aku belajar di Taman Kanak-kanak Al-Hujjaj dengan “kawalan” ibuku selama kurang lebih dua tahun lamanya. Kemudian di umur enam tahun, aku didaftarkan ibuku masuk Sekolah Dasar (SD) terdekat dengan rumahku bersama teman-teman sepermainanku. Tetapi aku tidak diterima hanya karena aku tidak dapat menjangkau telingaku yang sebelah kiri oleh tangan kananku melewati kepala, dimana dulu metode seperti itu lazim digunakan oleh sekolah-sekolah dalam menyeleksi siswa-siswa baru.
Aku tidak patah semangat, beberapa menit setelah penolakan tersebut, ibuku yang juga guru SD membawaku ke Sekolah tempat ia mengajar dan mendaftarkanku sebagai siswa baru yang duduk di kelas satu. Tahun pertama aku duduk di bangku kelas satu, ibuku sendiri yang menjadi guru pertamaku, karena memang ia bertugas mengajar di kelas satu. Dari sinilah awalnya aku di cap sebagai anak “manja” yang tidak bisa jauh dari ibuku, termasuk saat sekolah. Mereka (teman-teman kelasku) menyebutku dengan sebutan “anak guru”, suatu sebutan yang masih melekat hingga sekarang jika aku bertemu teman lamaku sewaktu SD.
Letak gedung sekolah yang cukup jauh dari rumah, mengharuskanku untuk senantiasa berangkat ke sekolah bersama ibuku. Selama enam tahun aku mengenyam pendidikan di sekolah itu, aku selalu berangkat dan pulang bersama ibuku dan guru-guru lain yang juga teman se-profesi ibuku. Hal itu semakin membuat citra “anak guru yang manja” melekat kepadaku, hingga pada Juli 2001 aku dinyatakan lulus dari SD dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang lebih dekat dengan rumahku. Setelah aku diterima di SMP tersebut, aku merasa banyak mengalami perubahan. Aku lebih merasa nyaman berbaur dengan teman-temanku yang tidak mengetahui jikalau aku anak bungsu dan anak seorang guru.
Tiga tahun setelah itu, aku lulus dari SMP dan melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) yang juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Aku merasa lebih nyaman dengan hal itu, meskipun aku bertemu kakak-kakak kelasku sewaktu SD yang sekarang satu SMA denganku masih mengenalku sebagai anak guru. Tetapi hal itu tidak terlalu mengangguku, karena aku anggap mereka sudah cukup dewasa untuk tidak lagi mengolok-olokku sebagai anak manja.
Sulit memang untuk lepas dari pencitraan tersebut. Awalnya memang julukan itu membuatku selalu merasa tidak nyaman, tetapi jika aku terus berpikir seperti itu, tidak akan ada habisnya dan justru merugikan diri sendiri. Akhirnya aku menemukan jalan keluarnya. Pikirku, dalam setiap kekurangan selalu ada kelebihan di dalamnya. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk paling sempurna. Sehingga tidak ada alasan manusia untuk tidak mau berpikir. Penilaian seseorang terhadapku berusaha aku rubah dengan sikapku yang bisa membuat mereka merubah stigma yang terdapat dalam kata “bungsu” itu. Meski tidak sepenuhnya berjalan lancar, hal itu dapat memotivasiku untuk berusaha lebih keras lagi.
Setelah aku menyelesaikan studiku di SMA selama tiga tahun, aku melanjutkan ke perguruan tinggi. Jikalau dulu aku masih terus dibantu oleh ibuku, kali ini aku memutuskan untuk berusaha sendiri secara mandiri. Selepas aku memperoleh tanda kelulusan dari SMA. Aku mengikuti tes-tes penerimaan mahasiswa baru di kampu-kampus favorit melalui jalur Ujian Masuk (UM) yang diadakan kampus bersangkutan. Walaupun pada akhirnya biaya pendidikan yang membumbung tinggi, membuatku hanya bisa gigit jari untuk kuliah di kampus itu. Hingga akhirnya orangtuaku menyarankan agar memilih kampus yang terdekat, toh karena daerahku yang belum lama menjadi provinsi sudah memiliki universitas negeri.
Aku pun mengikuti saran dari orangtuaku, meski awalnya mereka juga merasa sedih ketika aku tidak bisa mengambil kuliah di kampus favorit pilihanku. Tetapi aku berusaha tegar menghadapi itu semua, dan mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) yang merupakan ujian masuk lingkup nasional. Satu bulan setelah mengikuti tes, pengumuman mahasiswa yang diterima pun ditampilkan di surat kabar dan media-media online. Aku sangat senang ketika namaku terdaftar sebagai mahasiswa baru yang lulus seleksi. Ini semua memang restu dari orangtua, karena orangtua tahu yang terbaik untuk anaknya.
Tidak lama setelah pengumuman tersebut, masa orientasi mahasiswa baru atau yang lebih dikenal dengan Ospek pun digelar. Sekitar 1500 mahasiswa baru yang satu angkatan dengan mengikuti acara ini bersama-sama, tidak ada yang aku kenal disini, semuanya orang-orang baru yang bernasib sama denganku. Hingga empat hari pelaksanaannya, aku bisa melewatinya sendiri.
Tahun pertama aku kuliah, aku masih pulang pergi dari rumah ke kampus. Tetapi aku merasa monoton dengan yang aku lakukan, jikalau di kampus hanya menjadi mahasiswa “kupu-kupu” yang setelah kuliah langsung pulang. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kost bareng teman-teman kampusku. Selain belajar mandiri aku juga mendapat meanings of life atau makna dari sebuah kehidupan, dimana kita harus bisa berdiri diatas kaki sendiri (berdikari) dan tidak bergantung kepada siapapun termasuk orang tua kita sendiri.
Hal itulah yang akhirnya membawaku hingga sampai saat ini. Aku terus belajar untuk tidak bergantung kepada orang lain, mencoba mengerjakan semuanya secara mandiri dan yang terpenting julukan si bungsu yang manja itu pun lambat laun akan pudar dengan bergeraknya sang waktu. Meskipun pandangan awal orang tetap saja jikalau mengetahui aku sebagai anak bungsu, tetapi yang terpenting aku dapat menjadi diriku sendiri dan tidak bergantung dengan orang lain menjadi hikmah yang bisa aku ambil dari pengalaman hidupku.
Semoga kita semua dapat menjadi seorang yang BERDIKARI!. Amin.

Tidak ada komentar: