Rabu, 27 Oktober 2010

SUMPAH PEMUDA DAN LAHIRNYA BANGSA INDONESIA

Perjalanan panjang sejarah pergerakan pribumi Indonesia telah bermuara pada hari Sumpah Pemuda sebagai simbol kebangkitan pemuda Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 82 tahun yang lalu tepatnya 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda dari seluruh nusantara diantaranya Jong Sumatranen Bond, Jong Java, Jong Celebes, Jong Borneo, Jong Ambon (dari pemuda pribumi) dan Jong Islamieten Bond (dari pemuda keagamaan) berkumpul di Kramat Raya, Jakarta untuk mengikuti kongres pemuda.

Ikrar Sumpah pemuda yang menyatakan satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia adalah sesuatu yang sakral bagi terwujudnya persatuan menjadi satu bangsa Indonesia. Ego kedaerahan yang rela ditanggalkan oleh para pemuda nusantara demi melepaskan belenggu penjajahan dan terangkatnya harkat dan martabat hidup pribumi, seyogyanya menyadarkan anak bangsa untuk tetap bersatu dalam satu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kamis, 13 Mei 2010

Peran Mahasiswa dalam Implementasi Tridharma Perguruan Tinggi

Menuntut ilmu merupakan keharusan bagi semua manusia. Ilmu pengetahuan merupakan salah satu perangkat hidup yang sangat krusial bagi pelaksanaan peran dan fungsi manusia. Di Indonesia, proses transfer ilmu pengetahuan dan aktivitas pendidikan telah membangun komitmen untuk mengangkat harkat dan martabat hidup pribumi yang menjadi arah pembangunan tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Mahasiswa adalah peserta didik di perguruan tinggi yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran di perguruan tinggi. Sinergisitas perguruan tinggi dan mahasiswa dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi akan menghasilkan suatu inovasi dari tridharma perguruan tinggi sebagai suatu sistem dalam mencetak SDM yang berkualitas.
Jauh kebelakang, pada awal abad ke-19, organisasi pergerakan Boedi Oetomo yang terbentuk pada tanggal 20 Mei 1908 yang diprakarsai oleh Dr. Soetomo dkk. Boedi Oetomo merupakan organisasi yang memberikan pendidikan secara gratis kepada pribumi. Usaha yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa STOVIA ini telah memberi pencerahan yang sangat berarti bagi kehidupan pribumi dimasa itu. Kaum pribumi sebagai penduduk asli yang terikat dengan tanah dan adat istiadat orang tuanya harus menerima kebijakan cultuur stelsel (sistem tanam paksa) dari pemerintah Hindia Belanda yang menyebabkan kondisi mayoritas pribumi menjadi bodoh, miskin, tertinggal, dan tertindas

Sabtu, 01 Mei 2010

Komparasi Pendidikan Pribumi Masa Kini dan Masa Lampau

Lupakan sejenak situasi nasional yang bergulir bagai bola salju yang semakin besar, tetapi tidak pernah tahu kemana akan berakhir. Fenomena yang terjadi dewasa ini semakin membingungkan rakyat tentang apa sebenarnya yang terjadi di negeri ini. Mencuatnya kasus cicak vs buaya menjadi cikal bakal semakin semrawutnya kondisi negeri yang semakin tidak teratur oleh kasus-kasus baru seperti century, markus-markus lembaga negara hingga supremasi hukum yang masih dalam keadaan quo vadis saat ini.

Refleksikan sejenak tanggal 2 Mei sebagai hari pendidikan pribumi yang semakin hari semakin mengalami degradasi kualitas pendidikan dan pengajaran. Fenomena-fenomena yang terjadi saat ini adalah dampak dari kurangnya perhatian akan kualitas pendidikan di bangsa kita

Rabu, 21 April 2010

Membaca Menumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Buku adalah guru yang paling sabar, membaca adalah jendela dunia. Mungkin kata-kata bijak itu pernah kita baca ataupun kita dengar dan tersimpan dalam benak kita sebagai suatu motivasi untuk memahaminya atau malah hanya kata-kata biasa yang terdapat pada buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku yang tidak berarti apa-apa bagi sebagian orang, baik orang awam, pelajar atau bahkan mahasiswa sebagai intelektual muda yang mereka katakan sebagai agen perubahan (agent of change) dan senantiasa memperjuangkan aspirasi rakyat yang tertindas oleh kekuasaan pemerintahan yang sama sekali tidak berpihak kepada rakyat Indonesia.
Peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) seharusnya dibarengi dengan ketekunan mereka dalam bidang akademik. Banyak anggapan bahwa seorang aktivis mahasiswa tidak perlu terlalu “pintar” dalam bidang akademik,