Buku adalah guru yang paling sabar, membaca adalah jendela dunia. Mungkin kata-kata bijak itu pernah kita baca ataupun kita dengar dan tersimpan dalam benak kita sebagai suatu motivasi untuk memahaminya atau malah hanya kata-kata biasa yang terdapat pada buku-buku di perpustakaan atau di toko-toko buku yang tidak berarti apa-apa bagi sebagian orang, baik orang awam, pelajar atau bahkan mahasiswa sebagai intelektual muda yang mereka katakan sebagai agen perubahan (agent of change) dan senantiasa memperjuangkan aspirasi rakyat yang tertindas oleh kekuasaan pemerintahan yang sama sekali tidak berpihak kepada rakyat Indonesia.
Peran mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change) seharusnya dibarengi dengan ketekunan mereka dalam bidang akademik. Banyak anggapan bahwa seorang aktivis mahasiswa tidak perlu terlalu “pintar” dalam bidang akademik,
tetapi cukuplah ia mengikuti aksi-aksi yang hanya mengandalkan kekuatan tenaga (otot) dengan menggelar aksi massa atas nama rakyat yang tertindas tanpa pemikiran-pemikiran kritis yang seharusnya dapat memberikan solusi terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal inilah justru yang menjadi fenomena-fenomena yang rancu dimasyarakat, ketika mahasiswa sebagai kaum intelektual sudah tidak mau lagi berpikir dan menggunakan kepala dingin dalam menyelesaikan suatu persoalan, tetapi yang terjadi mereka senantiasa mengedepankan kemarahan dan hawa nafsu yang mengakibatkan subjektivitas, buruk sangka (prejudice) dan pelecehan terhadap sesamanya. Kemudian muncul pertanyaan, mengapa mahasiswa identik dengan aksi massa (demo)?, apakah dengan mereka menggelar demo masalah di negeri ini dapat terselesaikan?, bukankah manusia diberi akal pikiran untuk senantiasa berpikir, belajar dan menghargai sesama manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Jika kita hitung jumlah aktivis mahasiswa sebagai pelopor aksi massa, sudah terlalu banyak tentunya, tetapi jika kita hitung mahasiswa-mahasiswa yang kritis dan memiliki potensi dalam bidang akademik atau prestasi-prestasi positif lainnya mungkin perbandingannya masih sangat jauh terlihat.
Membaca sangat erat kaitannya dengan kompetensi seseorang. Seseorang dikatakan ilmuwan, praktisi ataupun akademisi tidak lepas karena ia memiliki minat untuk membaca, tidak mungkin seorang profesor dapat dikatakan profesor (guru besar) jika ia tidak gemar membaca. Untuk menumbuhkan minat baca dikalangan pelajar atau mahasiswa khususnya, yang saat ini lebih gandrung akan isu-isu yang tersebar oleh hasil intervensi dari berbagai macam kepentingan dan keuntungan golongan semata, kita harus menyadarkan kepada mereka bahwa tidak ada yang dibawa manusia setelah ia meninggalkan dunia selain -salah satunya adalah- ilmu yang bermanfaat. Bermanfaat bagi generasi-generasi yang senantiasa akan menghargai dan menyempurnakan usaha-usaha yang dilakukan oleh mereka dan pendahulu-pendahulu mereka.
Jika kita tilik kilas balik (flash back) sejarah perjuangan rakyat Indonesia hingga mencapai kemerdekaan, semua itu tidak terlepas dari peranan pemuda dan pendidikan-pendidikan yang dilakukan oleh rakyat pribumi pada saat itu. Dimulai dari pergerakkan Budi Oetomo pada 20 Mei 1908 yang merupakan tonggak perjuangan rakyat pribumi yang saat itu termiskinkan, terbodohkan, terbelakang hingga akhirnya tertindas oleh kolonialisme penjajahan Belanda yang melarang rakyat pribumi mengenyam pendidikan yang hanya diperuntukkan bagi bangsa-bangsa asing dan kaum-kaum priyayi kala itu, tetapi hal itu bukanlah halangan untuk suatu niat yang mulia agar rakyat pribumi dapat merebut kemerdekaannya yang selama ratusan tahun mereka rindukan. Melalui organisasi yang dipelopori oleh Dr. Sutomo –mahasiswa STOVIA- inilah pendidikan baca tulis, hitungan, dan pendidikan kebangsaan ditumbuhkan. Kemudian dilanjutkan oleh Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau yang lebih kita kenal dengan Ki Hadjar Dewantara pada 2 Mei 1920 yang mendirikan Taman Siswa sebagai sekolah formal pertama di nusantara, hingga akhirnya tercetuslah ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menyatakan satu tanah, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia oleh pemuda-pemuda dari Sabang sampai Merauke hingga dibacakannya teks Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia oleh dwitunggal Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.
Perjuangan yang dilakukan oleh founding father’s kita tidak terlepas dari pendidikan, terutama membaca. Kita lihat Soekarno, Moh. Hatta, H. Agus Salim, hingga Tan malaka -yang merupakan tokoh radikal Indonesia-, mereka semua adalah “kutu-kutu buku” pada zamannya, kutu buku yang menggerakkan rakyat Indonesia agar dapat bersatu dan berjuang demi terangkatnya harkat dan martabat hidup pribumi menuju kemerdekaan. Mereka tidak hanya sekedar mengandalkan tenaga rakyat, tetapi juga menggunakan kecerdasan mereka untuk mencerdaskan rakyatnya setelah mendapatkan banyak literatur-literatur yang mereka dapatkan dengan membaca buku-buku yang berkualitas.
Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa membaca adalah budaya asli kita sebagai bangsa Indonesia yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin dan pejuang kemerdekaan di masa-masa yang lampau. Membaca dapat menumbuhkan jiwa kepemimpinan, yaitu dengan memberikan kita kemudahan dalam memahami pendidikan (kompetensi) yang meliputi kecakapan, keahlian dan kemampuan. Kompetensi yang tinggi menumbuhkan jiwa komunikatif kita untuk menyampaikan ilmu yang kita miliki kepada saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air hingga seluruh dunia tanpa pamrih, kemudian menumbuhkan rasa kepedulian yang tinggi sehingga mengabdikan ilmu yang dimiliki untuk membangun negeri. Keberanian mengambil keputusan akan muncul dalam kalbu seorang yang berilmu dan peduli terhadap lingkungan masyarakat di sekitarnya. Sehingga proses-proses tersebut dapat menumbuhkan jiwa kreatif yang merupakan karakteristik pemimpin yang bergerak dari moral yang subjektif terhadap etika yang objektif dan pemimpin yang selalu mendekatkan kebenaran relatif (manusia) terhadap kebenaran absolute (mutlak) dari Tuhan.
Oleh karena itu, peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan penyempurna terhadap masa-masa yang lalu harus ditumbuh kembangkan, perubahan menuju arah yang lebih baik dan tidak sekedar berubah begitu saja tanpa melalui proses yang baik. Karena suatu perubahan adalah keniscayaan, dan sesuatu yang benar harus kita lakukan dengan cara yang benar pula, tinggal kita memilih apakah kita akan berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya berubah menjadi lebih buruk. Salah satu untuk menumbuh kembangkan potensi itu adalah dengan membaca. Membaca sebagai suatu proses pemupukan kompetensi (keilmuan) di semua kalangan mulai dari tua, muda, miskin, kaya, awam, pelajar, mahasiswa, praktisi, ilmuwan, profesor dan sebagainya harus ditumbuhkan, karena tanpa membaca kita tidak mengetahui apa-apa, hidup menjadi gelap karena tidak ada cahaya ilmu yang kita dapat dari membaca dan selemah-lemahnya manusia adalah manusia yang tidak berilmu.
tetapi cukuplah ia mengikuti aksi-aksi yang hanya mengandalkan kekuatan tenaga (otot) dengan menggelar aksi massa atas nama rakyat yang tertindas tanpa pemikiran-pemikiran kritis yang seharusnya dapat memberikan solusi terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal inilah justru yang menjadi fenomena-fenomena yang rancu dimasyarakat, ketika mahasiswa sebagai kaum intelektual sudah tidak mau lagi berpikir dan menggunakan kepala dingin dalam menyelesaikan suatu persoalan, tetapi yang terjadi mereka senantiasa mengedepankan kemarahan dan hawa nafsu yang mengakibatkan subjektivitas, buruk sangka (prejudice) dan pelecehan terhadap sesamanya. Kemudian muncul pertanyaan, mengapa mahasiswa identik dengan aksi massa (demo)?, apakah dengan mereka menggelar demo masalah di negeri ini dapat terselesaikan?, bukankah manusia diberi akal pikiran untuk senantiasa berpikir, belajar dan menghargai sesama manusia sebagai pemimpin di muka bumi. Jika kita hitung jumlah aktivis mahasiswa sebagai pelopor aksi massa, sudah terlalu banyak tentunya, tetapi jika kita hitung mahasiswa-mahasiswa yang kritis dan memiliki potensi dalam bidang akademik atau prestasi-prestasi positif lainnya mungkin perbandingannya masih sangat jauh terlihat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar