Dinamika budaya, hukum, sosial, politik, ekonomi hingga isu-isu lingkungan yang dewasa ini diperbincangkan menjadi hal yang menarik untuk kita amati. Mulai dari pengamat, pakar, hingga praktisi mencoba mengamati dan mengkritisi kondisi bangsa Indonesia saat ini, tidak sedikit yang mencoba memberikan terobosan-terobosan baru sebagai solusi agar Indonesia dapat terlepas dari krisis multidimensi yang melanda saat ini.
Banyak orang yang menguraikan tentang permasalahan-permasalahan yang dialami oleh bangsa Indonesia saat ini. Termasuk dalam seminar nasional yang diselenggarakan oleh UPT Humas Untirta bekerjasama dengan Radar Banten yang membahas tentang “Nasionalisme Yang Tercabik”, Senin (21/5) lalu. Narasumber yang berlainan latar belakang, menguraikan nasionalisme dalam sudut pandang mereka. Ada yang mengurai dari sudut pandang agama oleh Zainal Abidin Syujai (MUI Banten), sejarah peradaban dunia oleh M. Safari (ICMI) dan titik nadir nasionalisme di Indonesia oleh Dedi S. Gumelar/Miing (anggota DPR-RI).
Masalah Bangsa
Krisis multidimensi yang berarti krisis di segala bidang, mulai dari krisis etika, moral penegakkan hukum, sosial, politik, ekonomi, hingga mengarah kepada disintegrasi bangsa yang mengancam kesinambungan NKRI. Hal tu tidak terlepas dari dialektika idealis para penguasa yang merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan situasi dan kondisi bangsa saat ini. Penguasa yang tidak peduli dengan apa yang terjadi terhadap rakyat Indonesia. Berbagai kebijakan yang jauh dari harapan rakyat Indonesia menjadi sesuatu yang dilematis. Memang tidak ada yang perlu disalahkan atau mencari “kambing hitam” tentang siapa yang harus bertanggung jawab atas semua yang terjadi di negeri ini, tetapi tidak juga kita melepaskan begitu saja, seolah acuh dan tidak peduli terhadap tanah air yang kita cintai.
Persoalan bangsa yang seolah-olah tak kunjung usai membuat kita berpikir, sebenarnya apa akar masalah yang menyebabkan ranting-ranting masalah itu semakin hari semakin bertambah rumit (kompleks). Fenomena pro kontra konser Lady Gaga, Final Liga Champions sampai pernikahan Anang-Ashanti yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta semakin mendistorsi semangat nasionalisme yang mulai pudar di bangsa Indonesia. Akan tetapi semua fenomena itu hanyalah ranting dari akar masalah yang terjadi di bangsa ini. Bagaikan celaka tiga belas, dimana satu hilang dua belas sisanya menunggu untuk diselesaikan, tetapi apa hendak dikata maksud hati ingin menyelesaikan permasalahan, tetapi apa daya yang didapat justru masalah-masalah baru yang lebih kompleks dari masalah sebelumnya. Hal ini menuntut kita untuk berpikir keras sebagai anak bangsa yang tidak sekedar menjadi penerus, tetapi juga sebagai generasi penyempurna untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dialami generasi-generasi sebelumnya, bukan malah mencerca dan menyalahkan siapa yang mengakibatkan masalah-masalah itu terjadi.
Masalah-masalah pasti akan datang silih berganti, jangan membuat kita menjadi seorang pengecut yang lari dari masalah dan hanya menyalahkan seseorang. Semua itu adalah permasalahan kita bersama sebagai bangsa yang besar, bangsa yang selalu digembleng oleh keadaan. Bangsa yang terus berjuang sampai titik darah penghabisan, itulah sebenarnya karakter dan jatidiri bangsa kita yang saat ini telah kehilangan jatidirinya. Karakteristik seorang pemimpin adalah dapat bersikap objektif, tidak berburuk sangka dan tidak saling melecehkan serta selalu berpikir untuk duduk bersama melepaskan ego dan kepentingan pribadi mencari solusi. Terkadang seseorang lupa dengan kedudukan dan jabatan yang dimilikinya, sehingga subjektifitas, buruk sangka dan saling melecehkan dapat begitu saja terjadi dalam diskusi yang seharusnya menelurkan solusi terhadap permasalahan bangsa yang terjadi hingga hari ini. Sehingga akhirnya kita masih saja memandang “siapa” yang berbicara, bukan pada “apa” yang dibicarakan.dengan saling menunjukkan ego masing-masing.
Refleksi Sejarah
Jika kita refleksikan peristiwa sejarah masa yang lampau, dimana untuk pertama kalinya pemuda-pemuda pribumi yang dipelopori oleh Dr. Sutomo, Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Dr. Ciptomangunkusumo, yang saat itu tengah menjalani studinya di STOVIA -sekolah milik pemerintah kolonial Hindia Belanda- mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 sebagai organisasi kepemudaan yang bertujuan untuk menyadarkan dan mencerdaskan rakyat pribumi yang tertindas oleh pemerintah kolonial dan tidak dapat mengenyam pendidikan seperti yang didapat oleh golongan-golongan ningrat pribumi dan golongan eropa lainnya. Hal itu menjadi suatu momentum kebangkitan kaum pribumi yang tidak sadar dengan kondisi mereka yang saat itu miskin, bodoh, terbelakang dan tertindas. Meski demikian, mereka selalu mengedepankan potensi yang nantinya akan menjadi kekuatan untuk membangkitkan jiwa-jiwa pejuang pribumi untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan daripada berkutat menyalahkan dan mencari ‘kambing hitam’ tanpa berbuat.
Keterbatasan ekonomi dan peralatan yang sangat sederhana tidak menyurutkan semangat mereka untuk membangun rakyat pribumi dengan niat yang tulus ikhlas memberikan pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah kolonial, tidak mengeluh dan berputus asa dengan kondisi yang mereka alami. Inilah sebenarnya makna (meanings) dari kebangkitan itu sendiri, seperti apa yang dikatakan oleh Bung Karno dalam pidatonya “Jangan mengeluh, mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa.” Amanat pemimpin besar dan founding fathers bangsa ini yang senantiasa tidak kenal menyerah mengorbankan jiwa dan raganya demi negeri tercinta, mengajarkan kita untuk tidak mengeluh dengan kondisi yang terjadi, pada akhirnya menjadi satu motivasi kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang terus belajar dari sejarah dan menghargai jasa para pahlawannya.
Komitmen yang ditumbuhkan oleh Budi Utomo untuk mengangkat harkat dan martabat hidup pribumi yang terbodohkan, termiskinkan, terbelakang dan tertindas adalah satu komitmen yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita tidak ingin menjadi jongos di bangsa sendiri, bukan berarti bangsa kita yang dikenal ramah menjadikan mereka tidak tahu etika dan seenaknya melakukan apapun di bangsa kita, seperti yang penjajah lakukan di masa yang lalu. Seperti yang dikatakan Bung Karno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi Jilid II bahwa jangan sekali-kali melupakan sejarah karena sejarah adalah hukum yang kelak akan menguasai kehidupan manusia. Bangsa Indonesia tariklah moral dari hukum tersebut. Untuk itulah mengapa kita harus belajar dan memahami sejarah, tidak sekedar menjadikan peristiwa sejarah itu hanya sebagai momen yang diperingati secara ceremonial semata tanpa pernah memahami sari hukum yang dihasilkan oleh sejarah tersebut. Lebih dari itu untuk menjadi bangsa yang besar dan memiliki jatidiri bangsanya tidak lain hanya dengan mempelajari sejarah untuk dapat menentukan ke mana langkah kita di masa depan.
FAISAL TOMI SAPUTRA
Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Untirta, Serang - Banten
(Radar Banten, Selasa, 22 Mei 2012)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar